Movie Review: Clown

Film horor yang satu ini bisa dibilang bener-bener horor buat gue. Mengingat gue yang takut sama badut hahaha tapi dibalik itu, gue harus mengakui kalau film ini adalah film horor yang patut diacungi jempol. Itung-itung pemanasan sambil nungguin IT tayang di bulan September.

Film ini berawal dari Kent, seorang ayah yang berprofesi sebagai real estate agent. Kent menemukan kostum badut di salah satu rumah yang akan dijualnya dan memutuskan untuk mengenakan kostum tersebut dan memberikan kejutan kepada anaknya, Jack yang hari itu sedang berulang tahun.

image

Setelah acara ulang tahun selesai, Kent tidak bisa melepaskan baju badutnya dan ia terpaksa berpenampilan seperti badut saat ia harus bekerja.

image

Saat Kent dan istirinya, Meg mencoba untuk melepaskan kembali kostum badutnya usaha mereka sia-sia, seolah-olah kostum badut, wig, dan hidung badut yang dikenakan oleh Kent telah menjadi bagian dari dirinya. Kent berhasil menghubungi pemilik rumah sebelumnya dan menanyakan tentang kostum badut yang ia temukan di rumah itu, tapi sudah terlambat. Kostum yang ia kenakan sudah menyatu dengan dirinya secara utuh.

image

Saat Kent memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, usahanya sia-sia karena ternyata kostum ini tidak akan membiarkan pemakainya mati, melainkan merubah pemakainya menjadi sesuati yang berbeda. Sesuatu yang jahat.

Gue ngga akan spoiler dengan ngasih review lengkap. Lo harus tonton sendiri film dari Eli Roth ini.

Movie Review: Gacy House

Gue baru nonton film ini karena nemu waktu lagi cari film di hooq (bukan promosi), ternyata film ini bagus, gue ke mana ajaaaa. Yes, another horror mockumentary, kayaknya abis ini gue bakal bikin postingan tentang top horror mockumentary deh, tapi buat sekarang bahas Gacy House dulu aja ya.

Gacy House diangkat berdasarkan kisah nyata. Polisi menemukan mayat di rumah mendiang John Wayne Gacy dan di dalam rumahnya juga ditemukan footage tentang apa yang terjadi kepada mayat tersebut. John Wayne Gacy adalah seorang pembunuh berantai dan pemerkosa. Sasaran Gacy adalah anak lelaki dan lelaki remaja. Menurut wikipedia sudah membunuh 33 orang laki-laki selama tahun 1972 sampai 1978. Gacy lalu ditangkap dan dihukum mati pada tanggal 10 May 1994 setelah sebelumnya ditahan selama 14 tahun.

Rumah Gacy yang sudah lama kosong menjadi tempat untuk melakukan eksperimen paranormal. Tim investigasi paranormal yang terdiri dari Betty, Max, Amanda, Ian, Christina, George, Hilda, Chad, and Dole berharap akan menemukan dan merekam kejadian paranormal di rumah Gacy, mengingat di sanalah Gacy menguburkan para korbannya. Dengan total 26 korban yang ia kubur di basement rumahnya. Kamera pun dipasang di berbagai penjuru rumah. Tak lupa bermodalkan kamera infra merah dan voice recorder untuk merekam suara yang mungkin tidak bisa didengar oleh telinga.

Seperi horror mockumentary lainnya, adengan menegangkan baru muncul di pertengahan film, satu persatu anggota tim investigasi paranormal mulai merasakan keganjilan di rumah itu. Kadang gue suka heran sama film dengan genre ini, tujuan awal mereka kan memang untuk merekam aktivitas paranormal, tapi saat ditunjukkan secara langsung, mereka biasanya malah takut dan kabur. Lho, bukannya memang itu tujuannya?

Anyway, penampakan hantu di film ini minim banget. Hampir nggak ada, tapi jangan salah, tetep bikin adrenalin naik. Kalo penasaran sama filmnya, ini trailer-nya.

Dan di Youtube juga banyak kok dokumentasi tentang John Wayne Gacy kalo lo mau tahu lebih lanjut. Selamat menonton!

 

Rating gue: 2,5/5

Short Movie Review: Danur

Setelah Ular Tangga, gue kemarin nonton Danur yang masih dibintangi oleh Shareefa Daanish. Pertama kali melihat trailer-nya, seperti biasa, gue terbayang satu judul film yang sudah pernah gue tonton, kali ini The Sixth Sense yang ada di kepala gue. Kenapa terbayang The Sixth Sense? Simply karena tagline dari film ini adalah ‘I can see ghosts‘ sedangkan The Sixth Sense memiliki tagline I can see dead people‘. Jangan salahin gue kalau membandingkan dengan TSS ya hehe

Tidak ada yang spesial dari akting pemeran utama film ini kecuali untuk Daanish. Sebenarnya line Daanish tidak banyak di film ini tapi ekspresinya itu lho, JUARA! Untuk plot dari film ini sendiri, not bad lah, cukup bikin deg-degan dan tutup mata di beberapa scene-nya.

Film ini terinspirasi dari kisah nyata tentang seorang perempuan bernama Risa yang diperankan oleh Prilly Latuconsina. Risa Saraswati yang menjadi inspirasi dari pembuatan film Danur ini adalah seorang perempuan indigo yang memiliki 5 orang ‘teman bermain’. Karena Danur masih tayang di bioskop, gue nggak akan kasih detail review-nya biar nggak spoiler.

Tonton aja trailer-nya.

Movie Review: 5 to 7

Let me try to write my review in a reviewer language.

Aku memang bukan penggemar film bergenre romance, aku hanya menonton film dengan genre ini berdasarkan rekomendasi dari teman-teman. Salah satu film yang direkomendasikan kepadaku adalah 5 To 7. Aku pikir film ini adalah film romance ala teenager yang ceritanya terlalu cliché, tapi ternyata bukan. Film ini diperuntukkan kepada orang-orang yang tidak mempercayai istilah “cinta tidak harus memiliki” dan untuk mereka yang tidak percaya terhadap open relationship. Film ini memiliki narasi yang indah dan menyentuh, bukan sekedar romance dengan common happy ending ala fairytale, tapi bukan juga romance yang terlalu berlinang air mata.

Warning : SPOILER. Please proceed if you really want to know.

Continue reading “Movie Review: 5 to 7”

The Haunted Castle, Film Horor Pertama di Dunia

Nah, tadi waktu gue lagi surfing (internet, bukan pantai), gue nemu artikel yang ngasih tau tentang film horor pertama yang pernah dibuat di dunia. Judulnya Le Manoir du Diable atau The Haunted Castle.

Film ini dibuat pada tahun 1896 di Perancis dan disutradarai oleh Georges Méliès. Film horor pertama yang merupakan film horor bisu hitam-putih dan berdurasi 3 menit ini menceritakan tentang pertemuan iblis dengan berbagai hantu lainnya, iblis dan hantu ini lalu beramai-ramai menghantui manusia yang tinggal di dalam castle. Sungguh film yang absurd hahaha

Gue ngga akan membahas kualitas film ini, karena ya, ngga akan bisa apple to apple dengan film horor yang diproduksi pada masa setelah film ini rilis.

Nina Kulagina, Tokoh Inspirasi Film The Atticus Institute

Nama Nina Kulagina banyak disebut-sebut dalam film The Atticus Institute, karena penasaran, akhirnya gue googling siapa itu Nina Kulagina dan ini yang gue dapet.

Diceritakan dalam film The Atticus Institute, Nina Kulagina adalah seorang wanita dengan kemampuan psychokinesis yang luar biasa, tapi setelah gue googling lebih jauh berdasarkan website weekinweird, gue nemuin kalau Nina Kulagina adalah senjata rahasia dari Rusia karena kemampuannya yang bisa menghentikan detak jantung seseorang hanya dengan pikirannya. Mungkin efeknya hampir sama dengan detak jantung gue yang hampir berhenti kalau ketemu cewek cakep gitu.

Kemampuan Nina berkembang dari membuat benda melayang, membunuh katak, sampai kemampuan untuk menyembuhkan luka dengan tangannya sendiri. Nina juga mempunyai kemampuan untuk menampilkan objek di sebuah foto.

Berikut adalah video dokumenter dari kemampuan psychokinesis Nina Kulagina.

Nah, untuk film The Atticus Institute sendiri tidak akan gue bahas di sini. The Atticus Institute adalah film mockumentary yang menceritakan tentang sebuah laboratorium yang melakukan research tentang kemampuan manusia yang tidak biasa.

Short Movie Review: Ular Tangga

Kalo lo udah nonton trailer-nya film Ular Tangga, pasti yang ada di pikiran lo adalah Jumanji, paling nggak itu yang ada di pikiran gue. Kalo belom nonton trailernya, mending nonton dulu deh.

Gue bukan seorang yang suka nontonin film horror Indonesia. Horor Indonesia yang gue tonton cuma semua horror yang dibintangi oleh Suzanna, Jelangkung, Tusuk Jelangkung, Bangsal 13, dan Rumah Dara. Iya, cuma itu. Sisanya nggak usah dihitung dan nggak usah disebut karena kurang berkesan buat gue.

Ular Tangga yang dibintangi oleh Shareefa Danish ini bikin gue bertanya-tanya di awal. Apakah film ini benar seperti Jumanji versi horror? Kalo iya, serem juga ya. Coba bayangin Jumanji tapi isinya ‘Tangkap 13 jin’ atau ‘Kubur kembali 22 pocong’ kan males. Selain karena trailernya, hal lain yang bikin gue penasaran sama film ini adalah pemainnya. Danish entah kenapa cocok banget mainin film horror. Inget kan akting dia di Rumah Dara? Gimana mengerikannya muka dia? Dua hal itu yang bikin gue penasaran sama Ular Tangga.

Film ini mengangkat mapala sebagai garis temanya. Diceritakan sekelompok anak mapala yang akan naik gunung dan sebelum naik, mereka diberikan pesan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan selama pendakian. Element of surprise di film ini lumayan banyak. Termasuk soundtrack yang menurut gue kok kurang pas dimasukkan di salah satu scene-nya. Surprise banget gue di film horror tapi backsound-nya lagu galau, haha. Emang sih katanya kalau mau naik gunung, banyak aturannya. Yang paling sering gue denger sih pikiran nggak boleh kosong, jaga omongan, nggak boleh ambil apapun. Film ini sedikit menyiratkan kalau naik gunung itu serem banget, padahal sih nggak (Gue ngomong kayak yang udah sering naik gunung aja. Padahal mah baru sekali, haha).

Balik lagi ke awal, apakah film ini adalah versi horror Indonesia dari Jumanji? Jawabannya iya dan tidak. Iya karena sama-sama menggunakan papan permainan yang seharusnya tidak ditemukan, dan tidak karena cara mainnya berbeda.

Rating gue : 1,5/5

Movie Review: Sinister 2

Akhirnya Sinister 2 keluar juga setelah jeda 3 tahun dari film pertamanya. Sebenarnya sih gue nggak tau kalo Sinister bakal ada sequel-nya, jadi pas tau ada sequel-nya, gue excited banget nungguin filmnya keluar. Gue sebenernya agak kecewa sama film ini, karena jauh dari apa yang gue harapkan dan jauh dari film pertamanya. Sebelum gue ngetik lebih panjang, kalo lo niat nonton filmnya dan lo benci sama spoiler, mendingan stop baca sampe di sini.

Continue reading “Movie Review: Sinister 2”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑