Movie Review: Malam Satu Suro

Siapa yang ga kenal Suzana? Keterlaluan kalo ada yang ga tau sih hehe. Gue baru aja nonton (lagi) filmnya Suzana yang berjudul Malam Satu Suro. Kalo inget-inget tapi lupa, Malam Satu Suro itu yang bikin nama Suketi dan kalimat “Bang, beli sate 100 tusuk bang” jadi terkenal sampe sekarang.

Tapi bukan itu yang bakal gue bahas.

Gue baru nemuin fakta dari film Malam Satu Suro. Ternyata film ini bukan hanya sekedar film horor yang sukses bikin merinding pada masanya. Kenapa gue bilang pada masanya? Karena pada masa kejayaan film ini, efek yang dipakai bisa dibilang cukup oke (jangan disamain sama film-film horor jaman sekarang ya). Anyway, sorry for the poor image quality, gue ga bisa nemuin download-an film ini dalam kualitas bagus and oh, watch out for SPOILER ALERT.

1. The Beginning

image

Film ini dibuka dengan adegan semacam perkelahian seorang dukun melawan Suketi yang telah meninggal dan berubah menjadi sundel bolong. Si dukun berusaha menjadikan Suketi anak angkatnya dengan cara menancapkan paku (entah paku beton atau paku payung) ke kepala Suketi. Awalnya pasti orang-orang yang menonton film ini berfikir kalau itu adalah syarat pesugihan, tapi yang sebenarnya adalah si dukun ingin menjadikan Suketi anak angkat karena ingin memberikan Suketi kesempatan hidup satu kali lagi.

Suketi adalah korban pemerkosaan yang akhirnya meninggal dan arwahnya gentayangan karena tidak tenang.

2. The Love at the First Sight

image

Suketi berubah menjadi seorang wanita yang menarik, bahkan berhasil memikat hati dari seorang pemuda kota yang tampan bernama Bardo. Tidak ada yang spesial dari pertemuan mereka. Bardo yang hobi dengan kegiatan alam bertemu dengan Suketi secara tidak sengaja saat dia menemukan rumah Suketi di tengah hutan.

Beberapa hari telah berlalu sejak pertemuan Suketi dan Bardo, layaknya orang dimabuk cinta, Bardo akhirnya memberanikan diri untuk melamar Suketi. Lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh si dukun yang sudah menjadi ayah angkat Suketi karena hanya dia dan istrinya yang tahu siapa Suketi sebenarnya.

Melihat Suketi juga menyukai Bardo, sang ayah angkat pun luluh. Ia mau menikahkan Bardo dengan Suketi dengan beberapa syarat : pernikahan harus dilakukan di malam satu suro, pernikahan harus dilaksanakan di tengah hutan Alas Roban, syarat terakhir adalah pernikahan akan diselenggarakan tanpa dihadiri oleh siapapun.

Ini membuktikan bahwa cinta yang benar-benar tulus tidak akan memandang latar belakang pasangan kita, yang terpenting adalah masa depan yang akan dijalani bersama.

3. The Wedding

image

 

image

 

image

 

image

 

image

Yang agak aneh sih sebenernya adalah adegan suap-suapan kelopak mawar ini, tapi mungkin karena masa tu belum ada cake, jadinya pake kelopak mawar kali ya.

image

Yang aneh lagi adalah malam pertama mereka dilakukan di tengah hutan Alas Roban, dude that’s so unsanitary.

image

Out of nowhere tiba-tiba turun kelambu putih. Tetep aja bisa diintip kaleeee.

image

 

image

Adegan malam pertamanya pun digambarkan cukup liar, Suketi menjambak-jambak Bardo, dan mengunyah mawar (wtf?).

Ya, ga manusia ga sundel bolong, kalau horny ya horny aja ya.

4. The City Life

image

setelah menikah, Suketi pindah ke kota untuk tinggal bersama Bardo. Mereka juga memiliki 2 orang anak bernama Rio dan Pretty. Suketi juga berganti nama menjadi Uke.

Lagi-lagi tuntutan perkotaan dan sosial yang mengharuskan Suketi berganti nama jadi Uke. Karena dia takut dicengin sama ibu-ibu komplek kali.

5. The Conflict

image

Konflik berawal atas dasar persaingan bisnis. Pesaing Bardo yang tidak suka dengan kesuksesan Bardo mengunjungi seorang dukun wanita penganut ilmu hitam untuk mencari cara menghancurkan Bardo. Disini kedok siapa Suketi sebenarnya pun terbuka, sang dukun menceritakan bahwa siapapun yang menukahi sundel bolong, akan menjadi sangat kaya raya. Dukun wanita bersama pesaing bisnis Bardo pun mengunjungi kediaman Bardo untuk melaksanakan misinya menghancurkan Bardo dengan cara mencabut paku yang tertanam di kepala Suketi.

image

Langsung saja Suketi berubah kembali menjadi sundel bolong.

Mungkin kejadian ini cocok dengan pribahasa serapat apapun bangkai disimpan, baunya akan tercium juga.

6. The Mother’s Love

image

 

image

Setelah berhasil merubah Suketi kembali menjadi sundel bolong, geng perampok masih belum merasa puas sehingga mereka menculik anak Suketi yang paling kecil, Pretty. Tanpa disengaja salah satu perampok itu membunuh Pretty. Suketi yang mengetahui bahwa Pretty telah meninggal pun akhirnya menggali kembali makam Pretty untuk menjaga Pretty. Karena takut anaknya kelaparan, Suketi pun memberikan Pretty susu dan bakpao.

image

Kasih ibu memang sepanjang masa. Bahkan sudah meninggal pun, Suketi masih mengurusi anaknya. Memberikan susu dalam botol (ngga tau jug ague dia beli dimana) dan bakpao isi ayam dan kacang ijo.

7. The Revenge

image

Suketi berhasil menemukan perampok yang membunuh Pretty dan saat itu juga dia langsung membalaskan dendam.

Yang gue ngga ngerti sih kenapa bisa boneka teddy bear dipake buat membunuh si perampok.

8. The Conclusion

image

Sebagaimana film-film pada masa itu, Malam Satu Suro memiliki ending dukun baik dan pak haji yang meminta Suketi untuk tenang di alamnya dan dengan dukungan dari Bardo dan Rio, Suketi pun akhirnya bisa menerima dan mau kembali ke asalnya.

Ash to ash, dust to dust. Semua akan kembali ke asalnya pada akhirnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: