Movie Review: Clown

Film horor yang satu ini bisa dibilang bener-bener horor buat gue. Mengingat gue yang takut sama badut hahaha tapi dibalik itu, gue harus mengakui kalau film ini adalah film horor yang patut diacungi jempol. Itung-itung pemanasan sambil nungguin IT tayang di bulan September.

Film ini berawal dari Kent, seorang ayah yang berprofesi sebagai real estate agent. Kent menemukan kostum badut di salah satu rumah yang akan dijualnya dan memutuskan untuk mengenakan kostum tersebut dan memberikan kejutan kepada anaknya, Jack yang hari itu sedang berulang tahun.

image

Setelah acara ulang tahun selesai, Kent tidak bisa melepaskan baju badutnya dan ia terpaksa berpenampilan seperti badut saat ia harus bekerja.

image

Saat Kent dan istirinya, Meg mencoba untuk melepaskan kembali kostum badutnya usaha mereka sia-sia, seolah-olah kostum badut, wig, dan hidung badut yang dikenakan oleh Kent telah menjadi bagian dari dirinya. Kent berhasil menghubungi pemilik rumah sebelumnya dan menanyakan tentang kostum badut yang ia temukan di rumah itu, tapi sudah terlambat. Kostum yang ia kenakan sudah menyatu dengan dirinya secara utuh.

image

Saat Kent memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, usahanya sia-sia karena ternyata kostum ini tidak akan membiarkan pemakainya mati, melainkan merubah pemakainya menjadi sesuati yang berbeda. Sesuatu yang jahat.

Gue ngga akan spoiler dengan ngasih review lengkap. Lo harus tonton sendiri film dari Eli Roth ini.

Resep: No Bake Spinach Quiche

Nah, yang ini gue bikin karena pengen banget quiche tapi nggak punya oven. Bisa bikin pake teflon biasa ternyata. Hasilnya? Sama enaknya!

Bahan:

1 mangkok bayam
1 butir telur ayam
5 sdm tepung terigu
100ml susu full cream
3 buah jamur champignon
Garam
Lada
Bawang bombay
Keju
Margarin

How:
Tumis bawang bombay, jamur, bayam menggunakan margarin

Mixer telur, tepung, parutan keju, susu. Tambahkan garam dan lada

Panaskan wajan dengan margarin. Pastikan pinggiran wajan juga diolesi margarin

Masukkan campuran tepung terigu ke dalam wajan. Tutup wajan dan masak beberapa saat sampai bagian bawah adonan mengeras tapi bagian atas masih berupa adonan cair

Masukkan tumisan bayam dan jamur lalu tutup wajan dengan alumunium foil

Masak selama 20 menit dengan api sedang sampai pinggiran quiche garing dan bagian atas quiche mengering

Movie Review: Gacy House

Gue baru nonton film ini karena nemu waktu lagi cari film di hooq (bukan promosi), ternyata film ini bagus, gue ke mana ajaaaa. Yes, another horror mockumentary, kayaknya abis ini gue bakal bikin postingan tentang top horror mockumentary deh, tapi buat sekarang bahas Gacy House dulu aja ya.

Gacy House diangkat berdasarkan kisah nyata. Polisi menemukan mayat di rumah mendiang John Wayne Gacy dan di dalam rumahnya juga ditemukan footage tentang apa yang terjadi kepada mayat tersebut. John Wayne Gacy adalah seorang pembunuh berantai dan pemerkosa. Sasaran Gacy adalah anak lelaki dan lelaki remaja. Menurut wikipedia sudah membunuh 33 orang laki-laki selama tahun 1972 sampai 1978. Gacy lalu ditangkap dan dihukum mati pada tanggal 10 May 1994 setelah sebelumnya ditahan selama 14 tahun.

Rumah Gacy yang sudah lama kosong menjadi tempat untuk melakukan eksperimen paranormal. Tim investigasi paranormal yang terdiri dari Betty, Max, Amanda, Ian, Christina, George, Hilda, Chad, and Dole berharap akan menemukan dan merekam kejadian paranormal di rumah Gacy, mengingat di sanalah Gacy menguburkan para korbannya. Dengan total 26 korban yang ia kubur di basement rumahnya. Kamera pun dipasang di berbagai penjuru rumah. Tak lupa bermodalkan kamera infra merah dan voice recorder untuk merekam suara yang mungkin tidak bisa didengar oleh telinga.

Seperi horror mockumentary lainnya, adengan menegangkan baru muncul di pertengahan film, satu persatu anggota tim investigasi paranormal mulai merasakan keganjilan di rumah itu. Kadang gue suka heran sama film dengan genre ini, tujuan awal mereka kan memang untuk merekam aktivitas paranormal, tapi saat ditunjukkan secara langsung, mereka biasanya malah takut dan kabur. Lho, bukannya memang itu tujuannya?

Anyway, penampakan hantu di film ini minim banget. Hampir nggak ada, tapi jangan salah, tetep bikin adrenalin naik. Kalo penasaran sama filmnya, ini trailer-nya.

Dan di Youtube juga banyak kok dokumentasi tentang John Wayne Gacy kalo lo mau tahu lebih lanjut. Selamat menonton!

 

Rating gue: 2,5/5

Resep: Simple Steamed Brownies

Kata siapa anak kost-an nggak bisa bikin kue? Gue bisa tuh, hehe. Nggak pake oven, dan cuma dikukus aja.

3 sdm terigu
3 sdm coklat bubuk
3 sdm minyak sayur
3 sdm air hangat
1 sachet susu kental manis coklat
3 sdm gula pasir
1 sendok makan maizenna
1 butir telur dan 1/2sdt baking powder.

Campur semua bahan jadi satu, aduk dengan mixer. Kalau nggak punya mixer, bisa kocok lepas pakai tangan, tapi berarti tepungnya diayak dulu ya.

Sebelum dikukus, tutup adonan dengan alumunium foil. Kukus selama 20-30 menit.

Iya, segampang itu.

Short Movie Review: Danur

Setelah Ular Tangga, gue kemarin nonton Danur yang masih dibintangi oleh Shareefa Daanish. Pertama kali melihat trailer-nya, seperti biasa, gue terbayang satu judul film yang sudah pernah gue tonton, kali ini The Sixth Sense yang ada di kepala gue. Kenapa terbayang The Sixth Sense? Simply karena tagline dari film ini adalah ‘I can see ghosts‘ sedangkan The Sixth Sense memiliki tagline I can see dead people‘. Jangan salahin gue kalau membandingkan dengan TSS ya hehe

Tidak ada yang spesial dari akting pemeran utama film ini kecuali untuk Daanish. Sebenarnya line Daanish tidak banyak di film ini tapi ekspresinya itu lho, JUARA! Untuk plot dari film ini sendiri, not bad lah, cukup bikin deg-degan dan tutup mata di beberapa scene-nya.

Film ini terinspirasi dari kisah nyata tentang seorang perempuan bernama Risa yang diperankan oleh Prilly Latuconsina. Risa Saraswati yang menjadi inspirasi dari pembuatan film Danur ini adalah seorang perempuan indigo yang memiliki 5 orang ‘teman bermain’. Karena Danur masih tayang di bioskop, gue nggak akan kasih detail review-nya biar nggak spoiler.

Tonton aja trailer-nya.

Oleh-oleh dari Papandayan

Perjalanan naik gunung pertamaku ternyata memiliki arti yang lebih dari itu.

Naik gunung itu sama seperti menjalani hubungan, weekend kemarin aku, dan tiga orang teman kami pergi untuk mendaki gunung Papandayan. Ini adalah pendakian pertama untukku dan aku bahagia aku bisa sampai di puncak Papandayan bersama mereka. Banyak hal yang aku dapat selama pendakian dengan waktu kurang lebih 3 jam itu. Bermacam-macam medan yang harus kita tempuh untuk sampai di puncak. Tanjakan berbatu, hutan, sungai, tapi semua itu terbayar sudah saat aku sampai di puncak Papandayan. Aku sendiri tidak menyangka kalau aku akan bisa berhasil menaklukan gunung pertamaku.

Dalam perjalan menuju puncak Papandayan, beberapa kali aku merasa tidak kuat, aku merasa bahwa ini adalah limitku dan aku tidak bisa meneruskan perjalananku lagi, tapi kemudian aku merasa tertampar oleh perkataan temanku, “Kalau ngga kuat, ngga usah dipaksain. Kita turun aja yuk” kemudian aku tersadar, aku sudah sejauh ini dan mau menyerah begitu saja? Oh, nanti dulu.

Ternyata yang aku butuhkan hanya istirahat. Istirahat 5 menit untuk minum, kemudian melanjutkan lagi perjalananku. Hal ini sama dengan menjalin hubungan. Seringkali kita merasa bahwa ini adalah limit toleransi kita terhadap pasangan disaat hubungan kita dilanda masalah. Hati sama seperti kaki, bisa lelah, bisa patah. Kuncinya cuma dua, istirahat dan tahu kapan saatnya kita untuk berhenti.

Pendakian melewati berbagai macam medan juga seperti masalah yang kita temukan di dalam sebuah hubungan. Saat harus melewati tanjakan berbatu, aku takut salah pijak yang nantinya akan membuat aku terjatuh. Tapi aku belajar dari orang lain, aku lihat kemana mereka berpijak, saat pijakan yang mereka injak kuat aku ikuti itu sampai ke puncak. Dalam hubungan juga seperti itu, aku banyak belajar dari pengalaman orang tentang bagaimana menghadapi masalah yang mungkin akan aku hadapi nantinya.

Terima kasih, Papandayan.

Till we meet again next mount.

Movie Review: 5 to 7

Let me try to write my review in a reviewer language.

Aku memang bukan penggemar film bergenre romance, aku hanya menonton film dengan genre ini berdasarkan rekomendasi dari teman-teman. Salah satu film yang direkomendasikan kepadaku adalah 5 To 7. Aku pikir film ini adalah film romance ala teenager yang ceritanya terlalu cliché, tapi ternyata bukan. Film ini diperuntukkan kepada orang-orang yang tidak mempercayai istilah “cinta tidak harus memiliki” dan untuk mereka yang tidak percaya terhadap open relationship. Film ini memiliki narasi yang indah dan menyentuh, bukan sekedar romance dengan common happy ending ala fairytale, tapi bukan juga romance yang terlalu berlinang air mata.

Warning : SPOILER. Please proceed if you really want to know.

Continue reading “Movie Review: 5 to 7”

How To Recover Hidden File From USB Drive or PC

Jadi, barusan kantor gue dihebohkan sama salah satu tim gue yang laptopnya kena virus dan data-data di flash disknya hilang semua (atau bisa jadi ke hidden). Karena disitu ada tugas kuliahnya dan dia belum back up dimana-mana, ya udahlah jadinya dia mewek. Ngutak-ngatik, akhirnya nemu cara buat memunculkan kembali file yang ke hidden karena virus. Here’s how :

1. Colokin flash disk yang kena virus ke PC atau laptop

2. Klik logo start di windows dan di search tab klik CMD

3. Setelah CMD kebuka, ketik file location flash disk F: atau I: atau yang tercantum di file explorer lalu enter.

4. CMD akan keluar I:/ lalu disebelah garis miring, ketik attrib -s -h /s /d *.*

Jangan lupa kasih spasi ya.

Tunggu beberapa saat dan hidden files are no longer hidden.

Blog at WordPress.com.

Up ↑